Maafkan saya, saya tidak sedang menakut-nakuti anda wahai pembaca, betapa ancaman HIV secara “nyata memang telah tiba di halaman rumah kita”. Tulisan berikut, adalah kisah nyata perbincangan saya dengan Seorang perempuan yang menikah dengan penderita HIV. Moga-moga ini bisa bisa menjadi pelajaran bagi kita sekalian.
Panggillah dia Marni (Nama Samaran. Perempuan manis berusia 32 tahun yang keluarganya berada Di daerah Jawa mengaku baru mengetahui suaminya terjangkit HIV baru 2 bulan Setelah Menikah. Dan Panggillah juga Suaminya Budi (Nama Samaran)Budi Berasal Dari Kalimantan.
Pertemuan Mereka Berawal Di Jawa ,Pada Saat Budi Main Ke tempat Temannya Yang Bernama Ali (Nama Samaran)Sekaligus Saudara Sepupu Dari Marni.
Singkat Cerita Si Budi Di Perkenalkan Ali Dengan Saudara Sepupunya si Marni,Dan Terjadilah Saling Ketertarikan Antara Ke dua Belah pihak,Yang Akhir Berlanjut Sampai ke pernikahan.
Di Saat sudah Mengetahui Positif terjangkit virus HIV Di pernikahan Kami Yang Berusia 2 Bulan.
Kami Tetap Tidak Menggunakan Kondom Karena Kami Berdua Ingin Mempunyai Keturunan,Kata Si Marni.
meski dalam beberapa penelitian keamanan kondom sendiri masih diragukan sebagai penangkal penularan HIV.
Kebocoran, adalah salah satu hal yang mengkhawatirkan pada salah satu alat kontrasepsi ini.
Adapun Marni, untunglah kini ia terlibat aktif Seorang Diri di sebuah LSM yang menaruh perhatian pada penderita HIV/Aids,Karena Suaminya Kini telah Meninggal dirinya Di Usia Pernikahan Kurang Lebih 1 Tahun.
Kegiatan ini menurut Marni, bisa melipur hatinya yang kerap diliputi oleh ketakutan akan hari esok yang legam. Tapi setabah-tabahnya Marni, ia cumalah seorang perempuan muda. Usianya baru 32. Sebuah usia yang belum cukup matang untuk menerima kegetiran hidup se-tiba-tiba itu. Bayangkanlah, ketika remaja, Marni menjalani hidupnya lurus-lurus saja. Ia memang tahu, beberapa kawannya memakai narkoba, tapi tak pernah sekalipun Marni mencobanya. Sebagai anak ke empat, di keluarganya, Marni juga ingin menjadi teladan bagi keluarganya. Oleh karenanya, ia pun semampunya berkelakuan baik, termasuk beribadah kepada Tuhan Yang Kuasa seperti yang diajarkan oleh agamanya.
Marni, tak seperti kebanyakan penderita HIV yang terjangkit lantaran narkoba atau seks bebas yang kebanyakan di antara mereka memang tahu risiko dari pilihan hidupnya. Marni adalah sebuah pengecualian. Kesalahan terbesar Marni cumalah karena ia memilih bersuamikan seorang lelaki penderita HIV yang tak jujur kepadanya.
Ini Adalah Cerita Nyata yang Memang Aku Dapatkan Langsung Beritanya Dari Sang Korban.
Inti Dari Cerita ini Adalah Mengajak Pemuda - pemudi Dan Teman - Teman Untuk Berhati - Hati
Dalam Menjalin Sebuah Hubungan.
meski dalam beberapa penelitian keamanan kondom sendiri masih diragukan sebagai penangkal penularan HIV.
Kebocoran, adalah salah satu hal yang mengkhawatirkan pada salah satu alat kontrasepsi ini.
Adapun Marni, untunglah kini ia terlibat aktif Seorang Diri di sebuah LSM yang menaruh perhatian pada penderita HIV/Aids,Karena Suaminya Kini telah Meninggal dirinya Di Usia Pernikahan Kurang Lebih 1 Tahun.
Kegiatan ini menurut Marni, bisa melipur hatinya yang kerap diliputi oleh ketakutan akan hari esok yang legam. Tapi setabah-tabahnya Marni, ia cumalah seorang perempuan muda. Usianya baru 32. Sebuah usia yang belum cukup matang untuk menerima kegetiran hidup se-tiba-tiba itu. Bayangkanlah, ketika remaja, Marni menjalani hidupnya lurus-lurus saja. Ia memang tahu, beberapa kawannya memakai narkoba, tapi tak pernah sekalipun Marni mencobanya. Sebagai anak ke empat, di keluarganya, Marni juga ingin menjadi teladan bagi keluarganya. Oleh karenanya, ia pun semampunya berkelakuan baik, termasuk beribadah kepada Tuhan Yang Kuasa seperti yang diajarkan oleh agamanya.
Marni, tak seperti kebanyakan penderita HIV yang terjangkit lantaran narkoba atau seks bebas yang kebanyakan di antara mereka memang tahu risiko dari pilihan hidupnya. Marni adalah sebuah pengecualian. Kesalahan terbesar Marni cumalah karena ia memilih bersuamikan seorang lelaki penderita HIV yang tak jujur kepadanya.
Ini Adalah Cerita Nyata yang Memang Aku Dapatkan Langsung Beritanya Dari Sang Korban.
Inti Dari Cerita ini Adalah Mengajak Pemuda - pemudi Dan Teman - Teman Untuk Berhati - Hati
Dalam Menjalin Sebuah Hubungan.


