Rabu, 28 September 2016

Menikah Dengan Penderita HIV

Maafkan saya, saya tidak sedang menakut-nakuti anda wahai pembaca, betapa ancaman HIV secara “nyata memang telah tiba di halaman rumah kita”. Tulisan berikut, adalah kisah nyata perbincangan saya dengan Seorang perempuan yang menikah dengan penderita HIV. Moga-moga ini bisa bisa menjadi pelajaran bagi kita sekalian.
 Panggillah dia Marni (Nama Samaran. Perempuan manis berusia 32 tahun yang keluarganya berada Di daerah Jawa   mengaku baru mengetahui suaminya terjangkit HIV baru 2 bulan Setelah Menikah. Dan Panggillah juga Suaminya Budi (Nama Samaran)Budi Berasal Dari Kalimantan.
Pertemuan Mereka Berawal Di Jawa ,Pada Saat Budi Main Ke tempat Temannya Yang Bernama Ali (Nama Samaran)Sekaligus Saudara Sepupu Dari Marni.
Singkat Cerita Si Budi Di Perkenalkan Ali Dengan Saudara Sepupunya si Marni,Dan Terjadilah  Saling Ketertarikan Antara Ke dua Belah pihak,Yang Akhir Berlanjut Sampai ke pernikahan.
Di Saat sudah Mengetahui Positif terjangkit virus HIV Di pernikahan Kami Yang Berusia 2 Bulan. 
Kami Tetap Tidak Menggunakan Kondom Karena Kami Berdua Ingin Mempunyai Keturunan,Kata Si Marni.
meski dalam beberapa penelitian keamanan kondom sendiri masih diragukan sebagai penangkal penularan HIV.
Kebocoran, adalah salah satu hal yang mengkhawatirkan pada salah satu alat kontrasepsi ini.
Adapun Marni, untunglah kini ia terlibat aktif  Seorang Diri di sebuah LSM yang menaruh perhatian pada penderita HIV/Aids,Karena Suaminya Kini telah Meninggal dirinya Di Usia Pernikahan Kurang Lebih 1 Tahun.
Kegiatan ini menurut Marni, bisa melipur hatinya yang kerap diliputi oleh ketakutan akan hari esok yang legam. Tapi setabah-tabahnya Marni, ia cumalah seorang perempuan muda. Usianya baru 32. Sebuah usia yang belum cukup matang untuk menerima kegetiran hidup se-tiba-tiba itu. Bayangkanlah, ketika remaja, Marni menjalani hidupnya lurus-lurus saja. Ia memang tahu, beberapa kawannya memakai narkoba, tapi tak pernah sekalipun Marni mencobanya. Sebagai anak ke empat, di keluarganya, Marni juga ingin menjadi teladan bagi keluarganya. Oleh karenanya, ia pun semampunya berkelakuan baik, termasuk beribadah kepada Tuhan Yang Kuasa seperti yang diajarkan oleh agamanya.
Marni, tak seperti kebanyakan penderita HIV yang terjangkit lantaran narkoba atau seks bebas yang kebanyakan di antara mereka memang tahu risiko dari pilihan hidupnya. Marni adalah sebuah pengecualian. Kesalahan terbesar Marni cumalah karena ia memilih bersuamikan seorang lelaki penderita HIV yang tak jujur kepadanya.

Ini Adalah Cerita Nyata yang Memang Aku Dapatkan  Langsung Beritanya  Dari Sang Korban.
Inti Dari Cerita ini Adalah Mengajak Pemuda - pemudi Dan Teman - Teman Untuk Berhati - Hati
Dalam Menjalin Sebuah Hubungan. 

21 Tahun Hidup dengan AIDS

 Apa yang akan Anda lakukan bila suatu hari mendapati bahwa Anda memiliki virus yang dapat menyebabkan penyakit mematikan? Perasaan gamang itu pernah dirasakan oleh EH, seorang pengidap HIV positif.

Sudah 21 tahun virus yang menyerang sistem imunitas tubuh tersebut berdiam diri dalam tubuhnya. Ia tak pernah menyangka bahwa keisengan dirinya untuk tes HIV justru membuka kenyataan pahit yang membuatnya tak dapat lepas dari obat anti-retroviral virus atau ARV.

"Saat itu Desember 1994, saya dan sahabat saya iseng untuk ikut tes HIV gratis yang diadakan oleh sebuah yayasan di Jakarta. Siapa yang tahu HIV di 1994? Orang tahunya Freddie Mercury meninggal karena AIDS. Setelah tes, kami mengambil tesnya sendiri-sendiri dan saya tahu dari hasil bahwa saya positif HIV," kata EH, saat berbincang dengan CNN Indonesia.

"Ketika itu saya tidak diberi tahu maksudnya apa dengan hasil positif, tidak seperti saat ini. Saya hanya merasa semuanya mendadak gelap saat itu, padahal lampu semuanya menyala. Gelap...," kata dia.

EH secara terbuka menceritakan bahwa selama menjalani hubungan dengan kekasihnya terdahulu, ia selalu 'bermain aman'. Kata 'polos' dan frasa 'tidak aneh-aneh' ia pilih untuk menggambarkan hubungannya dengan sang pasangan yang terpaut usia cukup jauh itu. 

Dia yang saat itu bekerja di bagian keuangan sebuah perusahaan swasta tak menyalahkan sang pasangan. Sang pasangan pun keheranan, ia mengaku telah tes HIV tiga kali di Singapura dan menunjukkan hasil yang negatif. Sang kekasih yakin dirinya 'bersih'.

"Semua yang diidentifikasi positif dalam hasil tesnya pasti mucul penolakan, saya juga sama. Kenapa mesti saya? Kenapa bukan pekerja seks yang mangkal di Lapangan Banteng? Mereka bisa gonta-ganti pasangan dua hingga tiga kali dalam semalam. Saya hanya dengan satu pasangan," kata EH.

"Saya ikhlas menerima ini, tapi saya berdoa kepada Tuhan untuk mendapat bimbingan menjalani ini semua. Ibarat kata, ular sudah masuk rumah, yang terpenting bukan dari mana ular itu datang, tapi bagaimana ular itu pergi dan tidak kembali lagi," katanya.

Ilustrasi pengobatan HIV. (Reuters/Chaiwat Subprasom)


EH merasa beruntung ia mendapat bimbingan dari sang dokter pribadi. Ia mengungkapkan kegundahannya kepada dokter penyakit dalam tersebut atas sikap kebanyakan pasien HIV positif yang ia anggap 'menjual simpati' kepada orang lain. EH beranggapan bahwa penyakit yang ada di dalam tubuhnya tidak akan hilang walaupun sudah meminta belas kasihan. Ia menganggap bahwa kehidupan harus tetap berjalan.

Pandangannya itu mendapatkan dukungan dari dokter. Sang dokter meminta EH untuk menjadi motivator bagi sesama pengidap HIV untuk terus berjuang melawan virus yang ada di dalam tubuhnya, meskipun saat itu tak banyak yang dapat mengonsumsi ARV lantaran harganya dapat mencapai puluhan juta hanya untuk stok satu bulan dan hanya dapat diperoleh di Singapura.


Ilustrasi HIV Positif. (Thinkstock/jarun01)
Seperti dikutuk

Anti-retroviral virus pada era 90-an masih sangat terbatas. Obat yang dapat menghambat pertumbuhan virus HIV itu masih dipatok dengan harga yang sangat tinggi hanya untuk pemakaian satu bulan. Tak banyak pengidap HIV di Indonesia yang dapat menggapainya, tak juga EH.

Sejak divonis HIV positif pada 1994, EH hanya dapat menggantungkan hidupnya dengan hidup sehat dan sebisa mungkin tak sakit. Caranya tergolong berhasil hingga 2001 ketika dia mencoba ARV pertama kalinya. 

Menggunakan ARV yang kala itu masih terbatas jumlahnya di Indonesia pun tak serta merta membuat kondisi EH menjadi lebih baik. Kondisi kombinasi obat ARV yang terbatas, memaksa dia untuk juga ikut mengonsumsi obat kanker.

"Efek dari obat kanker itu membuat gosong seluruh tubuh, bahkan teman saya pernah bilang 'Ya Ampun, lo kayak dikutuk'. Itulah kenyataannya, ya saya menerima saja kondisi seperti itu," kata EH. Ia juga pernah pula mengalami alergi hingga seluruh tubuh.

Tapi ternyata penggunaan ARV tak berpengaruh terhadap virus HIV yang ada di dalam tubuhnya. Ia sekarat saat 2004. Kondisi tubuhnya menurun drastis. Kandungan virus HIV yang ada di dalam tubuhnya mencapai dua juta copy per mililiter darah, jumlah yang sangat banyak. 

Lalu CD4, atau jenis sel darah putih yang berguna untuk imunitas, di tubuh EH juga menurun drastis. Bila pada orang sehat, kandungan CD4 berkisar antara 400 hingga 2000 sel, pada tubuh EH hanya tinggal 13 lantaran mati karena HIV.

"Saya diare akut saat itu, biasanya orang normal bila diare berapa kali dalam sehari? Bayangkan, saya diare dari pukul 22.00 hingga pagi dapat mencapai 50 kali. Berat badan saya turun hingga sepuluh persen," kata EH. "ARV tak berpengaruh pada saya,"

Kondisinya yang memprihatinkan kala itu memaksa EH dan dokternya, ZD, untuk melakukan tes resistensi obat di Thailand. Hasil tes mengejutkan, ia resisten terhadap 15 jenis obat, padahal ia baru menggunakan tujuh jenis di antaranya sebagai ARV. Kondisi dia termasuk sangat langka karena dalam waktu singkat, ia sudah resisten. Padahal EH termasuk yang paling disiplin minum obat. Kasusnya pun dibawa oleh Palang Merah Indonesia ke Perancis.

EH pun mendapatkan dua kombinasi obat yang dapat ia gunakan, namun di saat yang bersamaan jenis obat ARV lini dua muncul, yaitu atazanavir. EH memilih menggunakan atazanavir sebagai antisipasi bila terjadi resisten kembali, ia masih memiliki obat 'ampuh' yaitu dua kombinasi obat dari kedokteran Perancis. 

Namun atazanavir yang dibanderol Rp8 juta per botol untuk konsumsi per bulan tersebut harus dibeli di Thailand. EH merasa kemampuan finansialnya tak mencukupi. Pada 2004, setidaknya ia harus menghabiskan Rp16 juta per bulan hanya untuk kombinasi obat-obat ARV. Beruntunglah EH mendapatkan dukungan dari perusahaannya saat itu untuk membeli obat.

"Saya juga baru berbicara kepada keluarga saya pada 2004 ketika saya sekarat. Saya hanya ingin mereka tak tersinggung ketika saya meninggal jenazah saya harus dapat 'perlakuan khusus'. Namun saya tak mengharapkan apapun dari keluarga saya, karena saya hanya ingin menanggung ini sendiri saja," kata dia.



HIV positif bukan hambatan berprestasi

Kini EH hidup selayaknya orang sehat pada umumnya. Penggunaan obat ARV lini dua membuat kondisi virus HIV pada tubuhnya membaik dan tak menjadi ganas, kondisi CD4 pada tubuhnya pun kembali pada taraf normal. 

Berbagai kondisi saat ini pun dinilai EH jauh lebih baik dibanding 21 tahun lalu saat ia pertama kali divonis HIV. Saat ini akes masyarakat terhadap pengobatan dengan ARV semakin baik, meski sebagian besar berada di kota besar. 

"Dengan HIV terkontrol, orang dengan HIV tidak lebih sakit dibandingkan orang yang sehat. Saya dari 2010 hingga saat ini mungkin hanya ke rumah sakit dua kali," kata dia.

"Saya ingin membuktikan kepada orang lain yang terkena HIV bahwa HIV kini tidak semengerikan dahulu kala. Semua sudah terkendali dengan baik. Obat ARV pun kini gratis," katanya. "Tiggal buka internet, semua informasi soal ARV ada."

EH menjadi salah satu contoh disipin ARV yang cukup baik. Di usianya yang 49 tahun, ia masih tetap rajin berolahraga di pusat kebugaran dan tampak seperti orang sehat pada umumnya. Ia pun masih sempat mengikuti berbagai aktivitas sosial untuk kampanye HIV. Dia juga semakin taat beribadah. 

EH membuktikan bahwa sebagai pengidap HIV positif tak menghalangi untuk berprestasi. EH tercatat sebagai karyawan paling berprestasi pada perusahaan farmasi beberapa tahun yang lalu. Kini, ketika dia bergabung dengan sebuah lembaga masyarakat, ia termasuk salah satu orang yang aktif mengurus masalah HIV di Indonesia.

"HIV tidak membunuh. Ia menurunkan kekebalan tubuh, karena itulah hal yang sederhana bisa memburuk. Semua orang punya jamur, virus, dan bakteri. Tapi dalam orang HIV, karena imunnya turun maka kuman itu dapat menjadi lebih ganas," katanya. "HIV itu bukan lagi penyakit kelompok tertentu yang rentan semata."

"Pihak perusahaan sepatutnya tidak menjadikan alasan penolakan karyawan dengan HIV. Karena saya dapat membuktikan, ketika saya kerja di farmasi saya selalu menjadi yang terbaik. HIV bukan halangan selama masih bisa sehat, dengan catatan HIV-nya terkontrol. Tidak ada bedanya produktivitas orang dengan HIV dengan yang tanpa HIV," terang EH.

Dia pun menyarankan masyarakat untuk menjalani tes HIV sedini mungkin. Menurutnya, semakin dini mengetahui maka akan semakin baik dalam penanggulangannya. Menurut EH, di balik hak kesehatan seseorang ada kewajiban pula baginya untuk melindungi orang lain dari penyakit yang ia bawa.

EH juga optimistis suatu saat nanti HIV akan dapat sepenuhnya ditangani. Baginya, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Bila terdapat penyakit, pasti ada penawarnya. Semua hanya tinggal masalah waktu yang akan menjawab.

"Saya sih optimis ke depannya HIV bisa disembuhkan, thank's God saya masih bisa bertahan hingga 21 tahun. Dahulu saat awal kena HIV, saya ingin menunggu untuk minum obat yang langsung bisa bikin sembuh. Saya juara bertahan karena saya mau minum dengan yang sudah ada, makanya bisa bertahan," kata EH sembari tersenyum.